Jenis-Jenis Financial Technologi di Indonesia

Spread the love

Kebutuhan dari finansial pada masyarakat saat ini sudah dipermudah dengan berbagai industri fintech atau financial technology yang saat ini sudah berkembang cukup pesat di Indonesia. Dengan kehadiran berbagai perusahaan fintech ini yang merupakan sebuah inovasi dari layanan sektor jasa keuangan dengan memanfaatkan teknologi sebagai sebuah alat dalam menjangkau konsumennya. Dengan demikian sebuah transaksi dapat dilakukan tanpa bertatap muka.

Berhasilnya Layanan Fintech di Masyarakat

Berdasarkan sebuah report, fintech di Indonesia di tahun 2018 berhasil meraih nilai transaksinya sebesar kurang lebih 2.3 trilyun. Dimana 57% nya dari nilai transaksi tersebut sudah di dominasi dari fintech dengan jenis pinjaman. Jenis Fintech atau financial technology tersebut bisa berupa aplikasi, model atau proses dan produk yang berhubungan dengan penyediaan layanan keuangan. Dengan beragamnya kebutuhan dari finansial masyarakat ini tentunya dapat melahirkan berbagai macam fintech dengan layanan-layanan yang berbeda.

Kategori Jenis Fintech

Financial Stability Board (FSB) atau Badan Rekomendasi Stabilitas Keuangan Global membagi jenis Fintech ini ke dalam empat kategori. Berikut ini ulasannya.

  1. Pembayaran, Penyelesaian, Kliring (Payments, Settlement dan Clearing)

Jenis Fintech ini memberikan layanan pada sistem pembayaran yang dilakukan secara online melalui sebuah uang digital dan dompet elektronik. Dimana sistem ini telah diselenggarakan dengan baik oleh lembaga keuangan seperti bank dan juga lembaga keuangan non bank. Beberapa contoh fintech jenis ini yakni sakuku BCA, Doku, T-Cash, Ovo dan Go-Pay yang saat ini sudah tidak asing lagi di masyarakat.

  1. Deposits, Capital Raising and Lending (Deposito, Penambahan Modal dan Pinjaman)

Salah satu inovasi yang paling umum dalam bidang ini yaitu crowdfunding, payday loan dan platform P2P. Financial technology jenis P2P lending ini menghubungkan antara pemberi pinjaman atau investor dalam hal ini dengan para pencari pinjaman di dalam satu platform. Biasanya satu peminjam ini dapat didanai dari dana yang berhasil terkumpul dari beberapa orang investor. Nantinya dari para investor tersebut akan mendapatkan keuntungan yang didapat dari dana yang mereka pinjamkan. Beberapa contoh dari financial technology jenis ini yaitu modalku, akseleran, investree dan juga UangTeman.

  1. Aggregators atau Market Provisioning

Dimana disini memiliki fungsi yakni mengumpulkan berbagai informasi dari pasar yang dapat dimanfaatkan oleh konsumennya sesuai dengan kebutuhan. Financial technology untuk jenis ini dapat memberikan perbandingan dari produknya mulai dari harga manfaat dan juga fiturnya.

Tentunya dengan layanan tersebut maka sangat memudahkan kita dalam mengambil keputusan yang lebih efisien jika dibandingkan dengan harus mencarinya satu persatu dengan informasi secara terpisah. Contoh nya yaitu cermati, cekaja, KreditGogo, dan yang lainnya.

  1. Manajemen resiko dan juga investasi atau investment and Risk Management.

Dimana layanan ini diberikan dari financial teknologi dengan jenis ini yang dapat berupa perencanaan dan juga penasihat keuangan, yakni platform perdagangan online dan juga asuransi. Apabila memiliki sebuah rencana keuangan tersebut, maka layanan ini dapat menjadi begitu penting sebagai salah satu sarana edukasi. Selain itu kita juga akan dijelaskan dengan hal-hal yang masih perlu diperhatikan terkait dengan prosesnya.

Kelebihan dan juga kekurangan, kualitas dan model investasi ini cocok supaya tidak merugikan. Platform perdagangan online atau yang sering disebut e-trading ini memberikan peluang kepada masyarakat untuk dapat berinvestasi secara langsung dengan komputer di semua jenis asetnya. Contoh dari financial teknologi pada jenis ini yaitu Bareksa, TanamDuit, Finansialkuz Cekpremi dan juga Rajapremi.

Demikian tadi terdapat empat jenis financial technology yang mesti kita ketahui. Mulai dari perspektif regulasi nya, industri financial technology yang terdaftar dan juga diawasi oleh OJK. Dimana OJK dan BI sudah menerbitkan beberapa kebijakan dan juga tindakan yang termasuk penutupan fintech ilegal atau tidak terdaftar demi memastikan pelindungan untuk konsumennya.

Bisnis perusahaan dengan rintisan atau startup dalam bidang jasa keuangan yang berbasis teknologi atau fintech ini masih saja akan terus tumbuh khususnya di Indonesia. Hal ini karena belum optimalnya dari peran perbankan pada sektor jasa keuangan, selain itu masih banyak juga masyarakat yang masih belum bisa mengakses untuk perbankannya.

Otoritas Jasa Keuangan atau OJK ini mengklasifikasikan finansial teknologi di Indonesia ke dua kategori. Fintech 2.0 dimana untuk layanan keuangan digital yang berhasil mengoperasikan lembaga keuangan misalnya seperti Mandiri Online dari besutan Bank Mandiri. Fintech 3.0 dimana untuk startup teknologi yang memiliki produk dan juga jasa inovasi keuangan.

Sebuah Badan Internasional Pemantau dan juga Pemberi Rekomendasi Kebijakan tentang sistem keuangan global, dan FSB atau Financial Stability Board membagi fintech ini ke dalam empat kategorinya seperti yang sudah dijelaskan diatas tadi.

Direktur dari AFTECH atau Kebijakan Publik Asosiasi Fintech Indonesia yakni Ajosatria Suleiman mengatakan bahwa pada saat ini telah ada 235 dari penyelenggara fintech ini yang sudah terdaftar. Dimana pemain dalam sistem pembayarannya sudah mendominasi sekitar 39%. Menurutnya, sub sektor tersebut dipercaya untuk terus menguat sejalan dengan adanya banyaknya potensi dan juga kekuatan solusi yang berasal dari masing-masing pihak sebagai penyelenggara Fintech.

Walaupun demikian, jumlah dari pemain P2P lending yang berhasil tumbuh dengan pesat. Jika pada tahun 2016 ini pelakunya berhasil tumbuh 16% maka di tahun 2017 ini tumbuh 32%. Pemain dari P2P lending ini bertambah dari OJK ini meluncurkan aturan dari P2P lending. Dan sisanya terbagi menjadi sub sektor lainnya meskipun tidak banyak misalnya seperti bisnis pengiriman uang, asuransi, securities dan lain-lainnya.